Indonesia merupakan salah satu negara berkembang. dimana farmasis atau apoteker di Indonesia tidak melaksanakan tugasnya dengan benar (ideal). bahkan masyarakat tidak mengenal apa itu farmasis dan apa tugas farmasis terutama di bidang kesehatan. masyarakat hanya tahu bahwa farmasis/apoteker adalah penjual obat di apotek dan orang yang meracik obat berdasarkan resep. ironis sekali memang, namun hal tersebut terjadi di Negara kita tercinta ini.

Banyak farmasis yang berusaha untuk mengimplementasikan konsep pharmaceutical care di Indonesia, namun hal ini tidaklah mudah, karena pharmaceutical care merupakan inti dari filosofi profesi farmasi dan bagaimana mengaplikasikan filosofi tersebut dalam tataran praktek komunitas maupun klinik. kita tidak bisa menggunakan konsep “filosofi dahulu, kebijakan dan praktek mengikuti” karena ketiga aspek tersebut saling mempengaruhi terlaksanannya praktek farmasi yang ideal.

Aplikasi Pharmaceutical Care dalam praktek klinik dan komunitas tanpa memahami filosofinya, akan menghasilkan praktek yang tidak ideal, tujuan untuk patient care bisa tidak tercapai karena farmasis/apoteker kurang memahami teori dan filosofi dari Pharmaceutical care. Tidak adanya proteksi berupa kebijakan dari pemerintah juga sangat mempengaruhi praktek farmasi klinik. farmasis/apoteker tidak akan bisa melakukan tugasnya sesuai dengan filosofi Pharmaceutical care jika tidak mempunyai wewenang dalam sistem pelayanan kesehatan secara umum.

diskusi mengenai filosofi, definisi dan implementasi dari Pharmaceutical care telah banyak dilakukan dan kita bisa mencari informasi tersebut dari berbagai sumber. Pharmaceutical care merupakan salah satu filosofi dari praktek yang berasal dari US serta telah diterima oleh farmasis di seluruh dunia. di Amerika dan negara-negara barat lainnya telah mengalami beberapa tahap perkembangan, dari tahap tradisional, tahap transisi atau tahap klinik hingga periode patient-centered.
Strand
bagaimanapun, banyak faktor yang mempengaruhi perubahan dari profesi farmasis, antara lain isu politik, faktor sosial ekonomi, tingkat pendidikan, teknologi informasi dsb. di Indonesia, profesi farmasis masih dalam tahap tradisional atau awal fase klinik dimana farmasis masih banyak berkutat dengan pekerjaan dispensing dan membuat pelayanan baru. masyarakat umum hanya mengetahui sedikit mengenai fungsi dari profesi farmasis, seperti menjual obat atao melayani resep saja. untuk mulai mengimplementasikan pharmaceutical care di suatu sistem, dimulai dengan memahami konsep pharmaceutical care, hal ini dapat dilakukan dengan mengunjungi website “pharmaceutical care discussion group” dan membaca buku mengenai pharmaceutical care seperti Pharmaceutical Care Practice yang ditulis oleh Prof. Strand dan tim nya. hal ini akan memberi ide mengenai filosofi – pemikiran yang sistemik mengenai profesi farmasis, definisi, paradigme, dan bagaimana mengimplementasikan dalam praktek klinik.

Farmasis – Membuat Perubahan! …Pada Biaya Pelayanan kesehatan
________________________________________
Penggunaan obat yang tidak tepat tidak hanya menjadi perhatian di bidang kesehatan, namun juga dari segi ekonomi. Gambaran kasar hasil penelitian memberikan data bahwa dana yang dihabiskan untuk membiayai penggunaan obat yang tidak tepat berkisar antara $7 – $9 millar tiap tahun. Berdasarkan penelitian di beberapa tempat pelayanan kesehatan dengan menggunakan metode Cost Benefit analisis menunjukkan bahwa rasio cost-benefit berkisar antara 1:6 hingga 1:25, artinya dari penelitian tersebut menyatakan bahwa dari setiap $1 biaya yang digunakan untuk jasa farmasis trans Pengaruh Peran Farmasis Melalui Pharmaceutical care dan Farmakoekonomidapat menghemat atau mengurangi biaya rumah sakit sebesar 6$ hingga $25.

Dapatkan farmasis memberikan perubahan melalui Pharmceutical care dan Farmakoekonomi?

Banyak sekali penelitian yang menunjukkan bahwa peran farmasis dengan aplikasi Pharmaceutical care dan farmakoekonomi dapat membantu meningkatkan pencapaian outcome terapi yang maksimal dengan biaya yang seminimal mungkin dalam sistem kesehatan. ketika farmasis dilibatkan secara aktif dalam pelayanan kesehatan terhadap pasien secara langsung dan dalam program penggunaan obat, beberapa manfaat dapat dihasilkan dalam sistem pelayanan kesehatan, antara lain:

  • Manurunkan jumlah pasien rawat inap
  • Menurunkan Lama Rawat di Rumah Sakir (length of stay)
  • Menurunkan intensitas visitasi dokter atau klinisi
  • Menurunkan Biaya Obat

Bagaimana Farmasis membantu dalam mengurangi biaya dan manajemen penggunaan obat?

Hal ini karena jika Farmasis mengaplikasikan Pharmaceutical care dan Farmakoekonomi, akan dapat:

  • Menurunkan biaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan dengan berfokus pada penggunaan obat yang optimal, menghindari atau meminimalisir masalah yang terkait dengan penggunaan obat (Drug Related problems/DRP’s), dan pencapaian outcome yang diinginkan pasien yaitu meningkatnya kualitas hidup.
  • Menyediakan pelayanan yang spesifik terhadap kelompok pasien tertentu (asma, hipertensi, Diabetes Melitus) untuk mengoptimalkan penggunaan obat dan outcome therapy. Pada akhirnya, proses ini membantu menurunkan kunjungan di Rumah Sakit atau Instalasi Gawat Darurat.
  • Menyediakan edukasi terhadap dokter mengenai peresepan yang tepat untuk penyakit yang spesifik untuk memastikan ketepatan dari penggunaan biaya yang tinggi untuk pengobatan.
  • Mengimplementasikan program untuk meningkatkan kepatuhan terhadap guidelines peresepan yang spesifik untuk mengoptimasi penggunaan obat atau pengobatan
  • Mengembangkan dan mengimplementasikan program-program untuk mempromosikan dilakukannya rawat jalan dan monitoring terhadap pasien tersebut, dengan demikian akan menurunkan jumlah pasien yang dirawat inap dan menurunkan Lama rawat di Rumah Sakit.
  • Beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa intervensi farmasis/apoteker memberikan pengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap penghematan biaya pengobatan. Semakin banyak jumlah farmasis dalam praktek klinis, semakin besar pula keuntungan dari investasi..

References

  1. Coambs RB et al. Health Promotion Research. Review of the Scientific Literature on the Prevalence, Consequences, and Health Costs of Noncompliance & Inappropriate Use of Prescription Medication in Canada. University of Toronto Press, 1995
  2. McLean WM. Pharmaceutical Care Evaluated: The Value of Your Services. CPJ 1998; 131(4): 34-40
  3. Ogle BG, McLean WM, Poston JW. The Clinical Pharmacy Services Study. Can J Hosp Pharm 1996; 49:1:S5-S25
  4. Condron JH, Mann JL. Drug Utilization and Therapeutic Intervention Programs; Pharmacy Services that Pay for Themselves. Can J Hosp Pharm 1994; 47:203-208
  5. Schumock GT, Meek PD, Ploetz PA, Vermeulen LC. Economic Evaluations of Clinical Pharmacy Services – 1988 – 1995. Pharmacotherapy 1996; 16(6): 1188-1208

Sumber: http://www.cshp.ca/advocacy/factSheets/healthCare_e.asp

1/17/2010

Overdosis Obat

Perawatan akan didikte oleh obat spesifik yang diambil dalam overdosis. Information provided about amount, time, and underlying medical problems will be very helpful. Informasi yang diberikan mengenai jumlah, waktu, dan masalah kesehatan akan sangat membantu.
  • The stomach may be washed out by gastric lavage (stomach pumping) to mechanically remove unabsorbed drugs from the stomach. Perut dapat dicuci oleh lavage lambung (perut memompa) untuk menghapus secara mekanis obat tidak diserap dari lambung.
  • Activated charcoal may be given to help bind drugs and keep them in the stomach and intestines. Arang aktif dapat diberikan untuk membantu mengikat obat-obatan dan menjaga mereka dalam lambung dan usus. This reduces the amount absorbed into the blood. Hal ini mengurangi jumlah yang diserap ke dalam darah. The drug, bound to the charcoal, is then expelled in the stool. Obat, terikat pada arang, kemudian dikeluarkan dalam tinja. Often, a cathartic is given with the charcoal so that the person more quickly evacuates stool from his or her bowels. Seringkali, sebuah katarsis diberikan dengan arang sehingga orang lebih cepat evacuates kotoran dari usus nya.
  • Agitated or violent people need physical restraint and sometimes sedating medications in the emergency department until the effects of the drugs wear off. Gelisah atau kekerasan fisik orang perlu menahan diri dan kadang-kadang menenangkan obat di departemen darurat sampai efek obat habis. This can be disturbing for a person to experience and for family members to witness. Ini dapat mengganggu bagi seseorang untuk pengalaman dan untuk anggota keluarga untuk saksi. Medical professionals go to great lengths to use only as much force and as much medication as necessary. Profesional medis berusaha keras untuk hanya menggunakan kekuatan sebanyak dan obat-obatan sebanyak yang diperlukan. It is important to remember that whatever the medical staff does, it is to protect the person they are treating. Penting untuk diingat bahwa apa pun staf medis tidak, itu adalah untuk melindungi orang yang merawat mereka. Sometimes the person has to be intubated (have a tube placed in the airway) so that the doctor can protect the lungs or help the person breathe during the detoxification process. Kadang-kadang orang harus intubated (memiliki tabung ditempatkan dalam saluran udara) sehingga dokter dapat melindungi paru-paru atau membantu orang bernapas selama proses detoksifikasi.
  • For certain overdoses, other medicine may need to be given either to serve as an antidote to reverse the effects of what was taken or to prevent even more harm from the drug that was initially taken. Overdosis tertentu, obat-obatan lainnya mungkin perlu diberikan baik untuk bertindak sebagai penangkal untuk membalikkan efek dari apa yang dilakukan atau untuk mencegah bahkan lebih banyak merugikan dari obat yang awalnya diambil. The doctor will decide if treatment needs to include additional medicines. Dokter akan memutuskan apakah perlu perawatan termasuk obat-obatan tambahan.

Self-Care at Home Self-Care at Home

Home care should not be done without first consulting a doctor or poison expert. Perawatan di rumah tidak boleh dilakukan tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter atau ahli racun.

  • For some accidental drug overdoses, the local poison control center may recommend home therapy and observation. Untuk beberapa kecelakaan overdosis obat terlarang, pengendalian racun lokal dapat merekomendasikan rumah pusat terapi dan observasi. Because of the potential for problems after some overdoses, syrup of ipecac or other therapies should not be given unless directed by a medical professional. Karena potensi masalah setelah beberapa overdosis, sirup ipecac atau terapi lain tidak boleh diberikan kecuali diarahkan oleh profesional medis.
  • Most people have telephone access to a local poison control center. Kebanyakan orang memiliki akses telepon ke pusat pengendalian racun lokal. Locate the closest one to you through the American Association of Poison Control Centers. Cari paling dekat dengan Anda melalui American Association of Poison Control Center.
  • Anyone who has small children at home should have the "poison line" telephone number readily available near the telephone. Siapapun yang memiliki anak-anak kecil di rumah harus memiliki "racun line" nomor telepon tersedia di dekat telepon.
  • People who take a drug overdose in an attempt to harm themselves generally require psychiatric intervention in addition to poison management. Orang-orang yang mengambil overdosis dalam usaha untuk menyakiti dirinya sendiri biasanya memerlukan intervensi psikiatri selain racun manajemen. People who overdose for this purpose must be taken to a hospital's Emergency Department, even if their overdose seems trivial. Orang-orang yang overdosis untuk tujuan ini harus dibawa ke rumah sakit Emergency Department, bahkan jika mereka tampaknya sepele overdosis. These people are at risk for eventually achieving a successful suicide. Orang-orang ini pada akhirnya risiko untuk mencapai sukses bunuh diri. The sooner you intervene, the better the success of avoiding suicide. Semakin cepat Anda campur tangan, semakin baik keberhasilan menghindari bunuh diri.

Referensi dari VitaDocs Kedokteran eMedicineHealth

Banyak teori ada tentang apa yang menyebabkan kolitis ulseratif. Orang dengan ulseratif kolitis memiliki kelainan sistem kekebalan, tapi dokter tidak tahu apakah kelainan ini merupakan penyebab atau akibat dari penyakit. Yang sistem kekebalan tubuh dipercaya untuk bereaksi normal terhadap bakteri di saluran pencernaan.

Kolitis ulserativa tidak disebabkan oleh tekanan emosional atau sensitivitas terhadap makanan tertentu atau produk makanan, tetapi faktor-faktor ini dapat memicu gejala pada beberapa orang. Tekanan hidup dengan kolitis ulserativa juga dapat berkontribusi pada memburuknya gejala.

Perawatan mungkin termasuk obat-obatan, suplemen gizi, operasi, atau kombinasi dari pilihan ini. Pengobatan untuk penyakit Crohn tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan penyakit, komplikasi, dan respons orang terhadap perawatan medis sebelumnya ketika dirawat karena gejala reoccurring. Banyak perawatan digunakan untuk kedua kondisi tersebut.

Seseorang dengan penyakit inflamasi usus mungkin memerlukan perawatan medis untuk waktu yang lama, dengan dokter biasa kunjungan untuk memantau kondisi.

Most people are first treated with drugs containing mesalamine, a substance that helps control inflammation. Obat Anti-Inflamasi. Kebanyakan orang pertama diobati dengan obat-obatan yang mengandung mesalamine, suatu zat yang membantu mengendalikan peradangan. Sulfasalazine adalah yang paling umum digunakan obat ini. Pasien yang tidak manfaat dari itu atau yang tidak dapat mentolerir hal itu mungkin akan memakai mesalamine lain mengandung obat, umumnya dikenal sebagai 5-ASA agen, seperti Asacol, Dipentum, atau Pentasa. Kemungkinan efek samping dari obat-obatan yang mengandung mesalamine termasuk mual, muntah, mulas, diare, dan sakit kepala.

Cortisone drugs and steroids—called corticosteriods—provide very effective results. Kortison atau Steroid. Kortison obat dan steroid-disebut corticosteriods-memberikan hasil yang sangat efektif. Prednisone adalah nama generik yang umum dari salah satu obat dalam kelompok ini obat. Pada awalnya, ketika penyakit itu yang paling buruk, prednison biasanya ditentukan dalam dosis besar. Dosis kemudian diturunkan sekali gejala telah dikendalikan. Obat ini dapat menyebabkan efek samping yang serius, termasuk kerentanan terhadap infeksi lebih besar.

Drugs that suppress the immune system are also used to treat Crohn's disease. Sistem kekebalan Suppressors. Obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh juga digunakan untuk mengobati penyakit Crohn. Paling sering diresepkan adalah 6-mercaptopurine atau obat yang terkait, azathioprine. Agen imunosupresif bekerja dengan menghalangi reaksi imun yang memberikan kontribusi untuk peradangan. Obat ini dapat menyebabkan efek samping seperti mual, muntah, dan diare dan dapat menurunkan resistensi seseorang terhadap infeksi.

This drug is the first of a group of medications that blocks the body's inflammation response. Infliximab (Remicade). Obat ini adalah yang pertama dari kelompok obat yang menghambat respons peradangan tubuh. FDA menyetujui obat untuk pengobatan sedang sampai parah penyakit Crohn yang tidak menanggapi terapi standar (mesalamine substansi, kortikosteroid, agen imunosupresif) dan untuk pengobatan terbuka, pengeringan fistula. Infliximab, perawatan pertama yang disetujui secara khusus untuk penyakit Crohn, adalah zat TNF.

In inflammatory bowel disease antibiotics are used to treat bacterial overgrowth in the small intestine caused by stricture, fistulas, or prior surgery. Antibiotik. Pada penyakit inflamasi usus antibiotik digunakan untuk mengobati bakteri berlebih pada usus kecil yang disebabkan oleh striktur, fistula, atau sebelum operasi. Untuk masalah umum, dokter mungkin meresepkan satu atau lebih dari antibiotik berikut: ampicillin, sulfonamide, cephalosporin, tetracycline, atau metronidazol.

Diarrhea and crampy abdominal pain are often relieved when the inflammation subsides, but additional medication may also be necessary. Anti-diare dan Fluid Replacements. Crampy Diare dan sakit perut sering lega ketika peradangan mereda, tapi obat tambahan juga mungkin diperlukan. Beberapa agen antidiarrheal dapat digunakan, termasuk diphenoxylate, loperamide, dan kodein. Pasien yang mengalami dehidrasi karena diare akan diperlakukan dengan cairan dan elektrolit.

Dokter dapat merekomendasikan suplemen gizi, terutama untuk anak-anak yang pertumbuhan telah melambat. Khusus cairan berkalori tinggi formula kadang-kadang digunakan untuk tujuan ini.

Dua pertiga hingga tiga perempat dari pasien dengan penyakit Crohn akan memerlukan operasi di beberapa titik dalam hidup mereka. Sekitar 25% sampai 40% dari pasien kolitis ulseratif akhirnya harus memiliki titik dua besar-besaran dihapus karena pendarahan, penyakit parah, pecahnya usus besar, atau risiko kanker.

Operasi menjadi diperlukan bila obat tidak dapat lagi mengendalikan gejala. Pembedahan digunakan baik untuk meredakan gejala yang tidak menanggapi terapi medis atau untuk mengoreksi komplikasi seperti penyumbatan, perforasi, abses, atau perdarahan di usus. Operasi untuk menghilangkan bagian dari usus dapat membantu orang dengan penyakit Crohn, tetapi bukan obat. Pembedahan tidak menghilangkan penyakit seperti peradangan cenderung untuk kembali ke daerah di sebelah tempat berpenyakit usus telah dihapus.

Dalam ulseratif kolitis, pembedahan mungkin diperlukan untuk menghilangkan kolon dan / atau anus.

Ruang lingkup farmasi komunitas sebetulnya tidak hanya di Apotek, namun juga meliputi Puskesmas ataupun di lingkungan sekitar. Peran farmasis/apoteker di puskesmas masih sangat minim, padahal jumlah penggunaan obat di puskesmas sangatlah banyak. Hampir sebagian besar puskesmas di Indonesia, tugas-tugas yang berhubungan dengon obat (baik distribusi atau penggunaan obat) dilaksanakan bukan oleh farmasis/apoteker, padahal seperti kita ketahui bahwa tidak ada profesi yang tahu dan berkompeten mengenai obat kecuali farmasis/apoteker. dalam hal ini, memang belum banyak penelitian atau bukti nyata bahwa farmasis mampu memberikan nilai tambah terhadap pengelolaan dan penggunaan obat di puskesmas.

Dari segi pengelolaan, farmasis/apoteker mampu memberikan manfaat berupa peningkatan efisiensi dalam penyimpanan obat dan menurunkan jumlah obat yang rusak dan kadaluwarsa. karena pengaturan dan penyimpanan yang tidak tepat.

Dalam hal penggunaan obat di puskesmas, peran farmasis masih sangat minim, padahal farmasis/apoteker mempunyai bekal yang cukup untuk meningkatkan rasionalitas terapi suatu penyakit pada pasien. farmasis/apoteker telah diberi bekal yang cukup mengenai farmakoterapi, Pharmaceutical care, swa medikasi maupun farmakoekonomi untuk menuju terapi yang rasional.

seperti telah disinggung sebelumnya, salah satu kendala yang dihadapi profesi farmasis/apoteker dalam perannya di puskesmas adalah tidak adanya kebijakan dari pemerintah pusat ataupun di sebagian pemerintah daerah yang mengharuskan adanya farmasis/apoteker untuk bertanggung jawab terhadap obat yang ada di puskesmas.

Oleh karena itu kita harus membuktikan diri bahwa dengan adanya farmasis/apoteker di puskesmas dapat memberikan manfaat yang sangat besar terhadap [engelolaan dan penggunaan obat di puskesmas. Beberapa cara yang dapat ditempuh adalah dengan magang di puskesmas, tentunya dengan mekanisme yang benar dan diperbolehkan secara aturan. selain itu instansi pendidikan juga dapat me-magangkan mahasiswanya dalam taraf S1 atau apoteker untuk mempraktekkan pengelolaan obat dan penggunaan obat yang benar di puskesmas, kemudian dilakukan penelitian untuk mendapatkan bukti bahwa adanya tenaga kefarmasian dalam hal ini farmasis/apoteker di puskesmas dapat memperikan efek positif.

Di Indonesia, baru 1-2 instansi yang melakukan MoU dengan pemerintah daerah untuk melaksanakan hal tersebut, oleh karena itu, bagi Instansi pendidikan yang lain dapat melakukan usaha tersebut guna meningkatkan kesempatan profesi farmasis/apoteker untuk berperan lebih banyak dalam pengelolaan obat atau penggunaan, dimana output yang semua pihak harapkan, yaitu Indonesia sehat 2010 dapat tercapai.

Ayo Kita Majukan Profesi Farmasis/Apoteker di Indonesia !!!


by Indonesian Pharmacist Update

Radang usus adalah sekelompok dua penyakit: kolitis ulserativa dan penyakit Crohn. Penyakit kronis ini dapat mengobarkan saluran pencernaan, menyebabkan diare berdarah, nyeri perut, dan penurunan berat badan. Kolitis ulseratif dapat mempengaruhi seluruh usus besar atau rektum. Terutama penyakit Crohn mempengaruhi segmen pendek baik dari kecil dan usus besar.
Penyakit Crohn adalah gangguan berkelanjutan yang menyebabkan radang saluran pencernaan, juga disebut sebagai gastrointestinal (GI) saluran. Penyakit Crohn dapat mempengaruhi bagian manapun dari saluran cerna, dari mulut ke anus, tetapi paling sering mempengaruhi bagian bawah usus kecil, yang disebut ileum. Pembengkakan memperluas ke dalam lapisan organ yang terganggu. Pembengkakan dapat menyebabkan rasa nyeri dan dapat membuat usus sering kosong, sehingga menghasilkan diare.
Penyakit Crohn mempengaruhi laki-laki dan perempuan sama-sama dan tampaknya berjalan di beberapa keluarga. Sekitar 20% dari orang-orang dengan penyakit Crohn memiliki hubungan darah dengan beberapa bentuk penyakit radang usus, yang paling sering saudara laki-laki atau perempuan dan kadang-kadang orang tua atau anak. Penyakit Crohn dapat terjadi pada orang dari semua kelompok usia, tetapi lebih sering didiagnosis pada orang antara usia 20 dan 30. Orang-orang dari warisan Yahudi memiliki peningkatan risiko penyakit Crohn, dan orang kulit hitam berada pada penurunan risiko untuk mengembangkan penyakit Crohn.

Penyebab dari penyakit radang usus tidak diketahui. Namun orang percaya bahwa mungkin secara genetik berhubungan sejak IBD dikenal untuk berjalan dalam keluarga.

Menyebabkan lingkungan hidup juga dipercaya untuk memainkan peran dalam pengembangan penyakit Crohn karena yang paling sering terjadi pada orang yang merokok, adalah penduduk negara-negara Eropa Utara dan tinggal di wilayah perkotaan.

Peneliti lain berspekulasi bahwa penyakit dapat disebabkan oleh infeksi atau virus.

Yang lain percaya bahwa sistem kekebalan tubuh yang bereaksi terhadap antigen tidak dikenal atau tidak dikenal.Antigen ini akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh untuk merespons secara tidak tepat terhadap jaringan usus normal, mengakibatkan radang kronis.

Campak, gondok, atau infeksi virus rubela tidak diketahui menyebabkan IBD. Virus yang menyebabkan penyakit campak menginfeksi sistem pernapasan dan kemudian menyebar ke jaringan limfatik (bagian penting dari sistem kekebalan tubuh). Selama infeksi akut, sel-sel getah bening di saluran pencernaan terinfeksi, tapi apakah ini menyebabkan peradangan kronis sangat dipertanyakan.

Satu teori berspekulasi bahwa virus campak dapat bertahan dalam usus pada individu-individu tertentu dan kemudian memicu infeksi peradangan kronis, namun hal ini tidak terbukti. Karena campak, gondok, dan rubella (MMR) mengandung vaksin hidup yang sangat lemah virus campak telah menyarankan bahwa vaksin dapat menyebabkan proses peradangan usus. Teori ini tidak terbukti dan bersifat spekulatif.

Gejala yang paling umum dari penyakit Crohn adalah nyeri perut, sering di daerah kanan bawah, dan diare. Pendarahan anus, penurunan berat badan, radang sendi, masalah kulit, dan demam mungkin juga terjadi. Perdarahan mungkin serius dan terus-menerus, yang menyebabkan anemia. Anak-anak dengan penyakit Crohn tertunda mungkin menderita pengembangan dan pertumbuhan terhambat. Jangkauan dan keparahan gejala bervariasi.

Menyeluruh pemeriksaan fisik dan serangkaian tes mungkin diperlukan untuk mendiagnosis penyakit Crohn atau kolitis ulserativa.

Dokter mungkin akan melakukan serangkaian saluran cerna atas untuk melihat usus kecil. Untuk tes ini, orang yang minum barium, solusi berkapur yang melapisi lapisan usus kecil, sebelum X-ray diambil.

Dokter mungkin juga melakukan pemeriksaan visual dari kolon dengan melakukan baik sigmoidoskopi atau kolonoskopi. Untuk kedua tes ini, dokter menyisipkan panjang, fleksibel, terang tabung dihubungkan dengan komputer dan monitor TV ke dalam anus.

Dokter mungkin juga melakukan biopsi, yang melibatkan mengambil sampel jaringan dari lapisan usus untuk melihat dengan sebuah mikroskop.

Komplikasi yang paling umum adalah penyumbatan usus. Penyumbatan terjadi karena penyakit cenderung menebal dinding usus dengan pembengkakan dan jaringan parut, mempersempit lorong.

Penyakit Crohn juga dapat menyebabkan luka, atau borok, bahwa terowongan melalui daerah yang terkena ke jaringan sekitarnya, seperti kandung kemih, vagina, atau kulit.

Gizi komplikasi yang sering terjadi pada penyakit Crohn. Kekurangan-kekurangan ini dapat disebabkan oleh asupan makanan tidak memadai, hilangnya protein usus, atau penyerapan miskin, juga disebut sebagai malabsorpsi.

Komplikasi lain yang terkait dengan penyakit Crohn termasuk radang sendi, masalah kulit, peradangan di mata atau mulut, batu ginjal, batu empedu, atau penyakit lain dari hati dan sistem bilier. Beberapa masalah ini diselesaikan selama pengobatan untuk penyakit di sistem pencernaan, tetapi beberapa harus diperlakukan secara terpisah.

Kolitis ulseratif adalah penyakit yang menyebabkan peradangan dan luka, yang disebut borok, di lapisan rektum dan usus besar. Borok terbentuk peradangan telah membunuh sel-sel yang biasanya garis usus besar, kemudian perdarahan dan menghasilkan nanah. Peradangan dalam usus besar juga menyebabkan usus sering kosong, menyebabkan diare.

Kolitis ulseratif dapat terjadi pada orang-orang dari segala usia, tapi biasanya dimulai antara usia 15 dan 30, dan kurang sering antara 50 dan 70 tahun. Ini mempengaruhi laki-laki dan perempuan sama-sama dan tampaknya berjalan dalam keluarga, dengan laporan hingga 20% dari orang-orang dengan kolitis ulserativa memiliki anggota keluarga atau kerabat dengan kolitis ulserativa atau penyakit Crohn. Insiden yang lebih tinggi dari kolitis ulseratif terlihat dalam putih dan orang-orang keturunan Yahudi.

Gejala yang paling umum dari kolitis ulseratif adalah sakit perut dan diare berdarah. Pasien juga dapat mengalami

  • anemia
  • kelelahan
  • berat badan
  • hilangnya nafsu makan
  • pendarahan anus
  • hilangnya cairan tubuh dan nutrisi
  • lesi kulit
  • nyeri sendi
  • kegagalan pertumbuhan (khususnya pada anak-anak)

Sekitar setengah dari orang-orang didiagnosis dengan kolitis ulserativa memiliki gejala-gejala ringan. Lain sering menderita demam, diare, mual, dan kram perut yang parah.


 
Fun Fun Pharmacy © 2009. Template Design By: rzneema